bible1

Untuk dapat memahami Alkitab dengan baik, ada 6 prinsip dasar tentang kedudukan Alkitab yang perlu dipahami, antara lain sebagai berikut:

1. ALKITAB SEBAGAI KARYA SASTRA

Tidak ada kitab-kitab yang turun dari langit begitu saja! Setiap kitab dalam Alkitab terbentuk secara natural yakni melewati proses penulisan. Penulisan dilakukan oleh para pengarangnya masing-masing sesuai dengan konteks pada zaman mereka hidup. Oleh karena semua/ setiap kitab dibentuk dengan cara ditulis maka Alkitab adalah karya sastra.

2. SETIAP KITAB MEMILIKI JENIS SASTRA

Kitab-kitab dalam Alkitab merupakan kesaksian iman tertulis para pengarangnya. Dalam menuliskan kesaksian imannya itu, setiap pengarang mengungkapkannya dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang mengungkapkannya dengan bentuk bernyanyi melalui lagu (Kitab Mazmur), berpetuah (Kitab Amsal), berpuisi cinta (Kidung Agung), bercerita sejarah (Kitab Raja-Raja), menggunakan cerita kuno (Kitab Kejadian), bersurat (surat-surat dalam PB seperti, Kitab Roma, Galatia, Efesus dan surat-surat yang lain), menuliskan dalam bentuk biografi (Kitab-kitab Injil) dan beberapa cara yang lain. Bentuk-bentuk cara mengungkapkan yang berbeda-beda itulah yang disebut jenis sastra/ genre. Memahami dengan baik setiap jenis sastra kitab-kitab dalam Alkitab adalah langkah awal yang baik dan merupakan syarat utama yang diperlukan dalam kegiatan menafsir.

3. ALKITAB MEMPUNYAI SIFAT TERBATAS

Setiap hasil karya yang dihasilkan oleh manusia, termasuk sastra, selalu mempunyai sifat terbatas. Alkitab sebagai hasil karya manusia/ karya sastra, juga mempunyai sifat terbatas. Keterbatasan manusia dalam berpikir, menyebabkan keterbatasan manusia dalam berpersepsi dan berbahasa. Oleh sebab itu segala teks yang dihasilkan manusia pasti terbatas pada satu konteks. Inilah yang selanjutnya disebut topik. Justeru karena Alkitab mempunyai sifat terbatas, maka Alkitab dapat dipelajari.oleh orang lain dan oleh generasi setelah pengarangnya. Coba bayangkan, apa jadinya jika Alkitab merupakan hasil tulisan makhluk lain dengan bahasa tulisan bukan manusia. Tentunya tidak akan dimengerti dan tidak berguna untuk manusia.

4. ALKITAB SEBAGAI PRODUK UMAT

Mana yang ada lebih dahulu, umat ataukah kitab? Yang pasti, umat ada terlebih dahulu baru kemudian umat membentuk kitab. Kitab dibentuk untuk keperluan mereka (umat) sendiri sebagai bentuk tertulis keyakinan iman mereka. Ini berarti bahwa kitab suci selalu merupakan produk umat, yaitu ketika sebuah umat telah mencapai sistem kepercayaan yang sudah masif.

Alkitab terdiri dari Kitab Perjanjian Lama yang terdiri dari 39 kitab dan Kitab Perjanjian Baru yang terdiri dari 27 kitab. Sebenarnya Kitab Perjanjian Lama itu sendiri merupakan kitab suci umat Yahudi, yang mana keberadaannya telah ada terlebih dahulu sebelum kekristentan muncul dan sebelum umat Kristen terbentuk.

Ketika umat Kristen mulai terbentuk, pada keadaan awalnya mereka tentunya belum memiliki kitab suci. Mereka memakai dan mengadopsi yang sudah ada yaitu kitab suci umat Yahudi. Dalam perkembangan selanjutnya kekristenan menjadi sebuah agama yang masif, yang kemudian membuat kitab sucinya sendiri yaitu Perjanjian Baru. Umat Kristen menyatukan Kitab Perjanjian Lama (milik umat Yahudi) dan Kitab Perjanjian Baru (produk mereka sendiri) menjadi satu bundel yang disebut Alkitab, seperti yang kita miliki sekarang ini.

5. SETIAP ISTILAH YANG ADA DALAM ALKITAB MERUPAKAN ISTILAH UMUM PADA ZAMANNYA

Setiap istilah, ungkapan juga simbol yang ada dalam kitab-kitab merupakan istilah, ungkapan dan simbol yang umum pada zamannya, pada zaman pengarang hidup. Istilah tersebut menjadi aneh pada konteks pembaca zaman ini oleh karena konteks budaya pembaca tidak sama dengan konteks pengarang, juga ada rentang waktu yang begitu jauh yang mana istilah, ungkapan juga simbol itu tidak lagi dikenali di masa kini.

Untuk itu, ketika kita menemukan istilah atau ungkapan atau simbol di sebuah kitab dalam Alkitab, maka istilah, ungkapan atau simbol itu merupakan hal yang sudah umum di masa pengarang hidup, yang maknanya harus dicari dalam konteks pada masa teks itu ditulis, bukan malah memberi makna atau memasukkan untuk konteks sekarang atau bahkan menafsirkannya konteks masa depan.

Sebagai contoh adalah istilah “akhir zaman” atau “zaman akhir”.

Pada zaman Yesus dan murid-murid, serta pada zaman surat-surat ditulis (lih. Ibr 9:26; 1 Ptr 1:5; 2 Ptr 3:3; Yud 1:8) istilah “akhir zaman” atau “zaman akhir” sudah dipakai secara umum. Ini berarti bahwa pembaca zaman kini ketika membaca istilah tersebut tetap harus mengartikannya dengan arti/ makna pada zaman teks itu ditulis (dulu). Pembaca di masa kini tidak boleh memberi arti baru terhadap istilah “akhir zaman” atau “zaman akhir”, apalagi mengada-ngada memberi arti untuk masa depan, seperti memaknainya bahwa akhir zaman/ zaman akhir adalah akhir dari bumi atau kiamat.

6. SELALU ADA KONSEP DIBELAKANG ISTILAH

Mana yang ada terlebih dahulu, istilah ataukah konsep? Jelas yang ada dahulu adalah konsep. Konsep ada terlebih dahulu, barulah muncul istilah untuk/ sebagai penyebut untuk konsep itu. Jika sebuah istilah sudah ada pada kitab (Alkitab) maka dibalik istilah itu pasti ada konsepnya. Artinya bahwa setiap istilah yang terdapat dalam kitab-kitab (Alkitab) harus dipahami sesuai dengan konsep yang ada dibelakangnya. Bukan malah membuat konsep baru atas istilah itu.

Lagi-lagi sebagai contoh adalah istilah “akhir zaman” atau “zaman akhir”.

Seperti yang telah dijelaskan pada no. 5 di atas, jika istilah “akhir zaman” atau “zaman akhir” merupakan istilah yang sudah umum pada masa Yesus dan murid-murid, maka pasti ada konsep yang dibelakangnya. Konsep itulah yang harus diikuti oleh pembaca masa kini. Pembaca di masa kini tetap harus dengan konsep itu dan bukan malah membuat konsep baru atas istilah yang sudah ada sejak lama.

Istilah “akhir zaman” atau “zaman akhir” merupakan istilah untuk menyebut zaman/ fase akhir dari konsep 70 x 7 masa/ penzamanan Daniel yang mana tentunya konsep itu telah umum dikenal oleh orang-orang Yahudi pada zaman itu.

Pembaca di masa kini tidak boleh membuat konsep yang baru untuk istilah yang sudah ada sejak lama, seperti halnya konsep kiamat, akhir kehidupan bumi dan alam semesta yang dibuat untuk menjelaskan istilah “akhir zaman” atau “zaman akhir”. Konsep lebih ada dahulu baru kemudian muncul istilah. Maka, jika istilahnya sudah ada, maka untuk mengartikan istilah itu haruslah melihat konsep yang di belakangnya, -bukan malah membuat yang baru.

974 total views, 7 views today