greekNT

Setiap orang yang meneliti Alkitab harus menyadari bahwa ada perbedaan konteks antara zaman Alkitab dengan zaman sekarang ini, apalagi kita, -orang Indonesia, -bukan atau tidak ada keturunan dari orang Ibrani/ Yahudi sehingga sama sekali tidak mewarisi tradisinya. Dengan menyadari hal tersebut maka kita mengerti bahwa Alkitab sebagai kesaksian iman orang-orang pada zaman atau masanya dengan konteksnya kala itu, sehingga dalam membaca dan memahaminya harus dalam bingkai konteksnya itu. Hal yang musti diterapkan untuk zaman atau konteks sekarang adalah prinsip kebenarannya. Bukan “menyeret” konteks zaman dahulu untuk diterapkan di zaman sekarang, itu sama halnya dengan menjadikan zaman sekarang seperti atau bahkan masa lalu.

Kita harus menyadari bahwa antara zaman Alkitab dan zaman kita hidup saat ini ada rentang waktu ribuan tahun. Dalam rentang waktu ribuan tahun tersebut, terjadi banyak perubahan manusia dalam cara “berada” dan “mengada,” -sederhananya perubahan manusia dalam berpikir (kosmologi).

Jika kita melihat cerita-cerita Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian baru dengan kacamata tahap perkembangan masyarakat, maka kita akan menemukan bahwa cerita-cerita tersebut adalah cerita tentang Masyarakat 2.0 (Society 2.0), tahap di mana masyarakat sudah bercocok-tanam dan cenderung untuk menetap, tidak berpindah-pindah lagi seperti Masyarakat 1.0 yang berburu. Oleh sebab itu tak heran apabila nuansa hewan dan tumbuhan menjadi dominan dalam Alkitab, menyatu dengan kehidupan masyarakat:

[1] Ritus ibadah yang selalu melibatkan hewan dan tumbuhan. Sebagai contohnya berbagai jenis persembahan kepada Tuhan persepuluhan, buah sulung yang mana itu semua adalah tumbuhan dan berbagai jenis kurban yang tak lain adalah binatang. Masyarakat kala itu adalah masyarakat suku yang selalu hidup berkelompok, yang mana antara agama dan masyarakat menyatu, pemimpin agama adalah pemimpin masyrakat begitu juga sebaliknya.

[2] Konflik sosial atau bahkan peperangan yang disebabkan oleh perebutan daerah/ tanah yang subur. Sebagai contohnya: (a) Israel pindah ke Mesir karena terjadi kelaparan, sedangkan Mesir merupakan daerah subur kala itu; (b) Konflik antara Israel Utara dengan Israel Selatan, yang mana daerah utara lebih subur, sedangkan Yerusalem ada di sebelah selatan menjadi ibukota sehingga ada tuntutan bahkan tekanan kepada utara untuk selalu memberi bantuan logistik kepada Selatan, namun dalam hal nama, Utara selalu kalah dari Selatan.

[3] Kedekatan terhadap dunia binatang dan tumbuhan melahirkan berbagai profesi seperti gembala, pekerja kebun anggur, pengolah anggur, penjual hewan ternak, dan sebagainya.

[4] Seberapa besar atau banyak kepemilikan binatang ternak dan ladang (tanah) menjadi ukuran kekayaan kala itu.

[5] Juga dalam hal sastra, penggambaran-penggambaran karakter atau personifikasi yang memakai tumbuhan dan binatang. Sebagai contohnya singa dari Yehuda, mawar dari Sharon, gandum di antara ilalang dan sebagainya.

Bagaimana dengan kita sekarang yang ada di zaman ini, yang bukan Masyarakat 2.0 lagi namun masyarakat yang menuju Masyarakat 5.0 (Society 5.0)? Masyarakat kita sekarang bukan lagi masyarakat suku yang mana selalu berkomunal/ berkelompok dengan satu agama saja. Kita tidak dekat lagi dengan binatang dan tumbuhan dalam arti sebagai orang yang harus mengusahakan binatang dan tumbuhan secara langsung untuk dapat memenuhi kebutuhan dalam hal makan. Ritual peribadahan kita di gereja tidak lagi menggunakan altar untuk pengurbanan hewan yang dibakar. Persembahan yang diberikan kepada jemaat pun bukan lagi tumbuhan melainkan uang juga mungkin barang-barang modern.

Penjelasan di atas masih satu konteks saja yaitu konteks lingkungan, yaitu tumbuhan dan binatang yang ada di sekitar dan mendominasi serta berdekatan erat dengan masyarakat, belum lagi konteks politik, konteks ekonomi, konteks sosial, konteks budaya, konteks teknologi, konteks kosmologi dan sebagainya.

Dalam hal konteks kosmologi, perkembangan teknologi manusia mencerminkan perkembangan kecerdasan manusia dari masa ke masa. Hal itu menyebabkan kosmologi atau alam berpikir manusia juga berubah.

221 total views, 1 views today