millennialjesus

A. GENERASI MILENIAL: SIAPA & BAGAIMANA MEREKA?

Generasi Milenial, yang lebih dikenal dengan sebutan millennials, atau juga Generasi Y, adalah mereka yang lahir antara tahun 1980 hingga 2000 (saat ini berumur 19-39 tahun). Mereka yang lahir pada tahun 1980-an disebut older millennials (milenial tua, milenial awal), sedangkan yang lahir pada tahun 2000-an disebut younger millennials (milenial muda, milenial akhir). Saat ini millennials tampil sebagai generasi muda-produktif di berbagai bidang. Mereka hadir di dunia kerja sebagai pemimpin muda, -sebagai tandingan, juga sekaligus tantangan, bahkan ancaman bagi generasi sebelumnya yaitu Generasi X dan Baby Boomer.

Millennials tampil dengan dengan keunikannya sendiri, baik dalam hal gaya hidup, cara bekerja, serta dalam melaksanakan keyakinannya (beragama). Mereka menampilkan satu pola yang berbeda dari generasi-generasi sebelumnya, bahkan mereka berani menabrak batasan-batasan yang telah ditetapkan sebagai norma, termasuk agama. Pandangan millennials dibentuk oleh segala tren atau kejadian di masa hidup mereka, antara lain: teknologi semenjak mereka lahir (khususnya teknologi informasi dan internet), acara realitas di TV, perceraian para boomer (yang adalah generasi orangtua mereka), ruang kelas yang multikultural, kreativitas yang diajarkan sekolah, orangtua yang mengajar mereka untuk berani berbicara, munculnya jejaring sosial. Bagaimana millennials beragama dan melaksanakan religio-spiritualitasnya?

Pada tahun 2014 Pew Research Center melakukan penelitian terhadap 3.291 responden millennials di Amerika Serikat dengan judul penelitian Religious Landscape Study. Pada tahun 2016, Bible Society di Inggris juga melakukan penelitian terhadap 1.942 responden millennials di Inggris dengan judul penelitian Digital Millennials and the Bible. Beberapa hasil yang didapat dari dua penelitian itu antara lain sebagai berikut:

 

  1. Tentang kepercayaan kepada Tuhan. Younger Millennials menduduki peringkat pertama kelompok generasi yang tidak percaya Tuhan dengan angka 26% responden. Sedangkan peringkat pertama yang menduduki status kelompok generasi yang percaya Tuhan adalah Babby Boomer dengan angka 34% responden.
  2. Tentang kitab suci sebagai Firman Tuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 44% responden menyatakan bahwa kitab suci bukan Firman Tuhan; 31% responden menyatakan sebagai Firman Tuhan namun tidak semua harafiah; 20% responden menyatakan bahwa kitab suci adalah Firman Tuhan yang semuanya adalah harafiah; 5% responden menyatakan bahwa kitab suci bisa jadi Firman Tuhan/ tidak tahu; dan 1% responden menyatakan tidak tahu.
  3. Frekuensi Millennials dalam membaca kitab suci. Hasil penelitian Pew Research Center menyatakan bahwa responden dengan kelompok umur 30-49 tahun (34% responden) dan 18-29 tahun (26% responden), yang mana millennials masuk dalam irisan dua kelompok ini, merupakan dua kelompok responden terbesar yang jarang bahkan tidak membaca kitab suci. Penelitian Bible Society menghasilkan temuan yang sama. Responden millennials Kristen Inggris yang membaca Alkitab setiap hari hanya sebanyak 9% reponden, sedangkan yang sama sekali tidak membaca Alkitab sebesar 21% responden.
  4. Tentang perlunya agama. Sebanyak 38% responden menyatakan bahwa agama sangat penting; 29% responden menyatakan agak penting; 17% responden menyatakan tidak terlalu perlu; 16% responden menyatakan bahwa tidak semua perlu; dan 1% responden menyatakan tidak tahu.
  5. Tentang kehadiran millennials pada kegiatan ibadah. Hasil penelitian Pew Research Center menyatakan bahwa sebanyak 38% responden hadir pada ibadah sekali dalam kurun waktu dua bulan; 34% responden menyatakan jarang hadir; 28% responden hadir pada ibadah seminggu sekali; 1% responden menyatakan tidak tahu. Hasil penelitian Bible Society juga menyatakan temuan yang senada. Sebanyak 22% responden millennials Kristen Inggris menyatakan bahwa mereka dapat merasakan terhubung dengan Tuhan tanpa atau di luar gereja.
  6. Tentang frekuensi millennials dalam berdoa. Sebanyak 39% berdoa setiap hari; 36% responden menyatakan jarang berdoa; 18% responden berdoa seminggu sekali; 7% responden berdoa sebulan sekali; kurang dari 1% responden menyatakan tidak tahu.
  7. Tentang partisipasi millennials dalam kegiatan kelompok doa dan pendalaman Kitab Suci. Sebanyak 62% responden menyatakan jarang bahkan tidak pernah; 18% responden melakukannya setidaknya sekali dalam seminggu; 11% responden melakukannya sekali dalam dua bulan; 9% responden hadir hanya beberapa kali dalam kurun waktu satu tahun; kurang dari 1% responden menyatakan diri tidak tahu.
  8. Tentang frekuensi millennials dalam bermeditasi. Sebanyak 58% responden tidak pernah melakukan meditasi; 27% responden melakukannya sekali dalam seminggu; 10% responden; 5% responden melakukannya hanya beberapa kali dalam setahun; kurang dari 1% responden menyatakan tidak tahu.
  9. Pandangan tentang benar dan salah. Sebanyak 64% responden menyatakan bahwa benar dan salah tergantung dari situasi; 33% responden menyatakan bahwa ada batas yang tegas antara benar dan salah; 2% responden lain menyatakan bahwa benar dan salah bisa tergantung pada situasi, bisa juga memang ada batas yang tegas; 1% responden menyatakan tidak tahu.

Dari hasil penelitian dua lembaga penelitian di atas, kita mendapat gambaran bahwa dalam hal beragama, millennials adalah kelompok generasi yang (masih) spiritual tetapi generasi yang mengalami kesulitan dalam memahami teks kitab suci/ Alkitab. Millennials merupakan generasi yang paling terpelajar, rasional dan paling banyak mendapat dan meneliti informasi dari internet. Terhadap kisah-kisah mujizat yang supranatural dan spektakuler, mereka tidak dapat menerimanya begitu saja dan akan selalu menuntut penjelasan logis. Bukan hanya itu saja, mereka juga sudah memahami tentang lokalitas teks. Di sinilah mereka mengalami kesulitan apalagi dituntut harus dapat menggunakan teks Alkitab untuk merespon permasalahan-permasalahan masa kini.

 

B. EMPAT KESULITAN MILLENNIALS DALAM MEMAHAMI KISAH YESUS ZAMAN OLD

“Can Christian preaching expect modern man to accept the mythical view of the world as true?” Ini merupakan pertanyaan Bultmann yang paling menantang, yang sebenarnya (terus) ditanyakan oleh millennials zaman now.

Ketika millennials membaca kisah tentang Yesus, dan pengajaran tentang Yesus dalam kitab suci, mereka benar-benar mengalami kesulitan. Pertama, millennials sulit memahami kisah-kisah spektakuler Yesus seperti yang disebutkan oleh kitab suci: Tuhan yang berinkarnasi menjadi manusia, berasal dari Roh Kudus menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, memberi makan ribuan orang, mengubah air menjadi anggur, menenangkan ombak, bahkan bangkit dari kematian, naik ke surga. Paling tidak, millennials bertanya, “jika itu peristiwa-peritiwa faktual yang pernah terjadi di masa lalu, mengapa di masa sekarang peristiwa-peristiwa seperti itu tidak lagi pernah terjadi?”

Kedua, millennials sulit memahami apa alasan untuk mereka harus dan wajib terhubung dengan Yesus, bahkan musti mengenal dan percaya kepadanya, dengan satu alasan agar selamat, seperti yang disebutkan dalam kitab suci. Millennials berkata dan bertanya, “saya bukan orang Yahudi, -saya orang Jawa, sama sekali tidak pernah tahu soal Yesus yang Yahudi dan ribuan tahun lalu itu, bagaimana mungkin saya disuruh mengenal dan percaya kepada dia yang saya tidak pernah tahu itu? Jika saya tidak percaya, kemudian dikatakan tidak selamat, selamat dari apa?” Bisa jadi, jika yang berkata dan bertanya itu adalah orang Jakarta, ia akan melanjutkannya celotehannya, “emang kalau gue ga percaya Yesus, masalah lo! Orang bokap-nyokap-engkong gue aja kagak kenal, mana gue kenal?”

Ketiga, millennials mengalami kesulitan dalam memahami keterkaitan atribut-atribut Yesus (Firman Allah, Allah, Anak Manusia, Anak Allah; Mesias; Imam besar, Kurban, Nabi) dengan konteks mereka hidup. Millennials berkata dan bertanya: “Ya, itu kan Yesus zaman dahulu, masalahnya saya hidup di zaman sekarang yang bukan lagi pada komunitas tribal dengan tradisi kurban”

Keempat, millennials mengalami kesulitan dalam memahami banyaknya atribut yang diberikan kepada Yesus, yang mana jika seluruh atribut itu dikenakan secara bersamaan, menimbulkan pertentangan satu dengan yang lain. Millennials bertanya, “Pada Surat Ibrani bagaimana mungkin Yesus diposisikan sebagai Imam Besar Agung namun juga sekaligus juga sebagai kurban?”

 

C. YESUS: SEBUAH PRODUK MITOLOGISASI

Empat kesulitan yang dialami oleh millennials seperti yang telah dijelaskan di atas disebabkan oleh karena Yesus yang selalu dipahami secara faktual, sehingga model pendekatan yang selalu dipilih dan digunakan adalah pendekatan historis, -yang selalu menuntut ketersediaan bukti-bukti fisik/ arkeologis untuk dapat memperoleh gambaran utuh tentang Yesus Sejarah (Historical Jesus). Beberapa teolog yang memegang model pendekatan ini antara lain William Wrede, Albert Schweitzer, Ernst Käsemann, Stanley E. Porter, Dale C. Allison, E.P. Sanders, Robert W. Funk, John Dominic Crossan. Sampai saat ini model penelitian Yesus Sejarah masih terus dikembangkan namun belum mampu merekonstruksi gambaran Yesus secara utuh, juga belum mampu membangun argumen atas kejadian-kejadian spektakuler, seperti cerita-cerita mujizat yang dilakukan oleh Yesus.

Di sisi lain Bultmann menawarkan sebuah pendekatan lain yang menantang, yaitu demitologisasi atas mitologisasi; -yaitu bahwa seluruh narasi tentang Yesus lebih baik dianggap sebagai mitos, -sebuah produk mitologisasi, yang mana untuk mendapatkan pesan utama, atas narasi tersebut perlu dilakukan demitologisasi. Mitos yang dimaksudkan pada pandangan Bultmann bukanlah cerita omong kosong atau cerita takhayul, melainkan cara manusia mengekspresikan tentang keberadaannya dalam dunia yang ditempatinya pada zamannya. Oleh sebab itu untuk menafsirkan mitos (demitologisasi) harus dilakukan dengan pendekatan antropologi dan bukan kosmologi. Mitos merupakan bahasa untuk menggambarkan kekuatan transenden yang mengendalikan dunia dan manusia.

Menurut Bultmann, Perjanjian Baru merupakan mitos yang dibentuk dari dua unsur, yaitu [1] Mitos Apokaliptik Yahudi; dan [2] Mitos Pendamaian Gnostik. Teologi harus berperan dalam tugas mengambil kerygma dari bidang kerja (framework) mitosnya; itulah yang disebut dengan demitologisasi. Dengan memahami kisah Yesus sebagai mitos, maka mengarahkan pembaca masa kini kepada “Yesus Yang Itu,” (thatness) bukan kepada “Apa itu Yesus” (whatness).

 

D. DEMITOLOGISASI BULTMANN SEBAGAI TEORI DASAR MEMBANGUN KRISTOLOGI MILLENNIAL

Jika bagi Bultmann, Yesus merupakan produk mitologisasi atau mitos masa lalu, mengapa millennials zaman now tidak membangun mitos Yesus-nya sendiri sesuai dengan konteks zaman now? Mengapa millennials tidak berani membangun kembali (re-mitologisasi, re-mythologizing) konsep Yesus/ Kristologi yang lebih cocok untuk konteks urban di masa kini?

Dalam bukunya yang berjudul Kerygma and Myth, Bultmann dengan jujur mengakui bahwa sebelum dia telah ada pemahaman yang serupa tentang Perjanjian Baru sebagai mitos, juga telah ada upaya-upaya demitologisasi yang dilakukan. Namun ia menyayangkan bahwa upaya-upaya demitologisasi yang terdahulu, dilakukan dengan cara mengupas dan membuang mitosnya, beserta juga kerygmanya. Sedangkan yang menjadi perhatian Bultmann adalah mengupas mitosnya, namun mengambil kerygmanya. Juga dalam hal metode dalam melakukan demitologisasi itu. Jika para pendahulunya melakukan demitologisasi dengan metode mengeliminasi mitosnya, maka bagi Bultmann bukanlah mengeliminasi, namun menafsirkan mitos itu, -dengan satu-satunya cara, yaitu existentialist interpretation, -penafsiran eksistensialis, sebuah penafsiran yang berangkat dari melihat hakikat.

Upaya membangun Kristologi Millennial harus diawali dengan menemukan hakikat millenials itu sendiri, baru kemudian setelah itu dilanjutkan dengan langkah berikutnya, yaitu re-mitologisasi. Dengan demikian millennials mempunyai dan lebih mengenal Yesus-nya sendiri dan hidup dalam iman akan Yesus-nya itu.

 

 

KEPUSTAKAAN

  • Baird, William. History of New Testament Research. Vol 2, From Jonathan Edwards to Rudolf Bultmann. Minneapolis: Fortress Press, 2003.
  • Bible Society. “Digital Millennials and the Bible.” diakses 19 Mei 2019. https://www.biblesociety.org.uk/latest/news/digital-millennials-and-the-bible/.
  • Bultmann, Rudolf dan Karl Kundsin. Form Criticism: Two Essays on New Testament Research. New York: Harper Torchbooks, 1962.
  • Bultmann, Rudolf. Kerygma and Myth: A Theological Debate. Editor: Hans Werner Bartsch New York: Harper Torchbooks, 1961.
  • Cran, Cheryl. 101 Tips Mengelola Generasi X, Y dan Zoomer di Tempat Kerja. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2014.
  • Kähler, Martin. The So-called Historical Jesus and the Historic Biblical Christ. Philadelphia: Fortess Press, 1988.
  • Pew Research Center. “Religious Landscape Study.” diakses 19 Mei 2019. https://www.pewforum.org/religious-landscape-study.
  • Talbert, Charles H. What is Gospel? The Genre of the Canonical Gospels. Philadelphia: Fortress Press, 1977.
  • Yuswohadi. Millennials Kill Everything. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2019.

Download versi PDF

336 total views, 1 views today