focus

Teks bacaan: Kolose 3:23
Ibadah Tutup Tahun 2018, Gereja Bethel Indonesia Ahmad Yani, Sukabumi, 31 Desember 2018


¶ Renungan Akhir Tahun 2018

Tahun berjalan, kemudian berakhir, lalu berganti.
Berjalan lagi, berakhir lagi dan berganti lagi,
begitu seterusnya.
Lalu apa? Begini saja? Begini terus? Lalu apa?

Hidup dalam dimensi waktu, tak dapat lepas darinya.
Tak dapat kembali ke masa lalu,
juga tak dapat melompat ke masa depan.

Tahun ini ada suka, ada duka,
tahun depan yang katanya baru, juga ada demikian.
Lalu apa?


PENDAHULUAN

Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2018. Kita datang beribadah untuk mengucap syukur atas penyertaan dan pemeliharaan Tuhan di sepanjang tahun 2018, serta untuk menaikkan doa dan memohon penyertaan dan pemeliharaan Tuhan untuk tahun yang baru, tahun 2019.

Kita mengambil waktu sejenak untuk berdiam, merenungkan seluruh peristiwa yang telah terjadi, baik dalam kehidupan kita pribadi maupun dengan sesama, juga tentang keadaan alam yang terjadi khususnya di Indonesia. Bisa jadi kita malah akan menjadi pesimis, karena kita merasakan bahwa tahun 2018 ini ternyata tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yang mana untuk sebagian orang, tahun ini malah dirasa sebagai tahun yang lebih sulit.
Lalu bagaimana? Sebagai orang percaya, apa yang harus kita lakukan dalam menjalani dan menghadapi kehidupan?

 

PENYADARAN #1 — DIRI MANUSIALAH SEBAGAI SUMBER PERMASALAHANNYA SENDIRI

Kita beranggapan bahwa semua masalah datang dari luar, masuk ke dalam hidup kita, mempengaruhi hidup kita dan menjadikan hidup kita semakin berat. Anggapan itu tidak sepenuhnya benar! Justeru hampir sebagian besar berasal dari diri manusia, diri kita.

  1. Ada atau tidaknya buah pengetahuan yang baik dan yang jahat di tengah Taman, juga ada atau tidaknya ular yang menggoda, bukan menjadi soal atau masalah. Yang bermasalah adalah diri manusia itu sendiri, yaitu Hawa yang pada waktu itu ia menjadi tergoda. Kej 3:6, “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati…”
  2. Akar dari segala kejahatan adalah bukan uang, melainkan cinta uang. Uang adalah benda mati. Jika dikatakan “cinta uang,” berarti yang bermasalah adalah diri orangnya, bukan uang yang benda mati itu. 1 Tim 6:10; “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”
  3. Dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya. Kej 4:7.

Stop menyalahkan apa/ siapapun juga! Sadari bahwa diri manusia adalah sumber permasalahan bagi manusia itu sendiri. Memperbaiki diri dalam berpikir dan berperasaan jauh lebih baik dari sekedar mempermasalahkan ini dan itu, dia dan mereka.

 

PENYADARAN #2 — DUA CARA TUHAN MELAKUKAN MUJIZAT

Umat Tuhan sering lupa, dan bahkan tidak tahu bahwa Tuhan melakukan mujizat-Nya dengan dua cara: [1] mengubah keadaan; keadaan buruk dirubah menjadi baik; [2] mengubah orang; keadaaan buruk Dia izinkan tetap dan bahkan semakin buruk, namun orang yang mengalaminya Dia ubahkan mendapatkan kekuatan baru. Namun dalam kenyataannya, umat Tuhan pada umumnya hanya mau mujizat Tuhan nomor 1 saja, menolak nomor 2, sehingga ketika Tuhan melakukan mujizat-Nya dengan cara nomor 2, umat Tuhan tetap tidak merasakan bahwa Tuhan bekerja dan ada di pihaknya.

Pada peristiwa Sadrakh, Mesakh dan Abednego, (Dan 3) tungku perapian tidak menjadi dingin, justru malah tujuh kali lebih panas. Dalam hal ini, Tuhan tidak mengobah keadaan menjadi lebih baik, melainkan malah mengijinkan keadaan semakin buruk. Namun Tuhan memberi kekuatan-Nya kepada mereka, sehingga mereka tetap hidup dan selamat. Tuhan melakukan mujizat-Nya tidak hanya dengan mengubah keadaan saja, seperti peristiwa pembebasan bangsa Israel dari Mesir melalui padang gurun, yang mana keadaannyalah yang selalu diubah. Tuhan melakukan mujizatnya juga dengan cara-Nya yang lain, yaitu mengubahkan orang atau pribadi. Dalam Perjanjian Baru, justru

Pahami bahwa Tuhan melakukan mujizat-Nya tidak hanya dengan cara mengubah keadaan, namun juga dengan cara mengubah orang/ pribadi, yang mana Ia memberi kekuatan kepada orang/ pribadi itu untuk dapat melalui keadaan.

 

PENYADARAN #3 – KUASA DOA

Berhadapan dengan persoalan hidup dalam kehidupan sehari-hari, umat Tuhan semakin lupa dan tidak lagi beriman bahwa doa orang benar besar kuasanya (Yak 5:16). Umat Tuhan tidak lagi berdoa dan melupakan doa. Mereka lupa bahwa hakikat doa adalah bersekutu dengan Tuhan, melibatkan Tuhan memohon perkenanan Tuhan atas apa saja yang didoakan.
Dalam doa kita membawa diri kita di hadapan Tuhan, memohon pimpinan-Nya atas jalan hidup kita. Memohon terang-Nya untuk selalu menerangi pikiran dan perasaan kita agar perbuatan kita menjadi benar dan langkah kita tidak tersesat. Berdoa tidak hanya memberi dampak positif seara psikologis, namun terlebih dari itu, doa memberi kuasa atas hidup dan keadaan kita.

Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
(1 Tes 5:17-18)

 

PENUTUP

  1. Keadaan dunia tetap akan seperti ini. Jangan berharap dunia berubah karena dunia hanya dapat berubah jika manusianya berubah dan memberi dampak bagi dunia itu. Manusianya yang harus berubah dahulu baru kemudian dunianya yang akan berubah. Rm 12:2. Di sinilah diperlukan kekuatan Tuhan serta komitmen untuk dapat melakukan perubahan, menuju kepada kedewasaan hingga kepada kesempurnaan.
  2. Semakin meyakini Tuhan sebagai Pribadi Yang Baik, Sang Pemelihara. Tidak lagi melihat secara parsial (sebagian) bagaimana Tuhan berkerja, melainkan melihatnya secara keseluruhan. Mengalami Tuhan dalam setiap hal kehidupan merupakan latihan bagi iman yang menjadikan kita percaya bukan saja karena melihat tapi karena telah menjadi pengalaman bahkan gaya hidup.
  3. Tetap hidup dalam kehidupan doa, oleh karena kehidupan doa merupakan satu-satunya cara atau alat untuk manusia dapat bersekutu dengan Tuhan, melibatkan Tuhan dalam setiap kegiatan kehidupan.
  4. Dengan memahami 3 hal di atas, kita akan menjadi mampu untuk melakukan segala kegiatan kehidupan kita secara sungguh-sungguh dan tetap berfokus kepada Tuhan. Kol 3:23.

Mari kita mengucap syukur atas pemeliharaan Tuhan yang telah kita alami di sepanjang tahun 2018, dan dengan penuh kesadaran, kita memasuki tahun yang baru, tahun 2019 dengan memperbaharui komitmen kita untuk menjadi umat Tuhan yang bertumbuh ke arah kedewasaaan menuju kepada kesempurnaan.

Soli Deo Gloria,
Andreas Christanto, M.Th

 

335 total views, 1 views today