pantekosta

Bagi anda yang besar dalam tradisi gereja GPdI, Gereja Pantekosta di Indonesia, atau yang saat ini masih sebagai anggota jemaat GPdI, pasti pernah bertanya, “Kenapa kok digunakan kata ‘pantekosta’ dan bukan ‘pentakosta’ seperti yang ada dalam Alkitab LAI?”

Penggiat dunia maya Facebook, dengan nama akun FrankyLinda Rewah, yang juga sebagai gembala di GPdI, pada halaman Facebooknya pada tanggal 16 November 2017 memberi penjelasan tentang hal ini:

Mengapa GPdI memakai “Pantekosta” dan Bukan Pentakosta? Alasannya adalah:
Secara Resmi “GPdI” atau “Gereja Pantekosta di Indonesia” dipakai setelah pendudukan Jepang pada tahun 1942. Saat itu yang menjadi Ketua Badan Pengurus adalah Bapak Pdt. HN Rungkat.
Perlu kita tahu saat GPdI Gereja Pantekosta didirikan oleh para pioner, Alkitab yang mereka pakai adalah Akitab terjemahan H C Clinkert yang terbit pada tahun 1879.
Nah, ayat Kis. 2:1 tertulis sepertini ini: “Kapan Soedah sampe hari Pantekosta, di orang samowa ada berkoempoel dengan satoe hati ….”
Jadi para pendiri Pantekosta menjadikan dasar Sebutan “Pantekosta” berdasarkan Alkitab terjemahan Clinkert itu. Memang sejak Tahun 1900 Alkitab terjemahan Clinkert sangat disukai di Indonesia dan di Tanah Minahasa Alkitab ini sangat Populer. Karena Pendiri GPdI banyak Pioner asal Minahasa maka Kata “Pantekosta” itulah yang di pakai sebagai nama GPdI.
Perlu diketahui Alkitab Bahasa Indonesia “Terjemahan Bode Atau Terjemahan lama” di buat tahun 1958 dan “terjemahan baru” tahun 1974. Kata “Pentakosta” nanti berubah dan di digunakan dalam dua Alkitab itu. Sedangkan GPdI atau Pantekosta sudah ada sebelum 2 Alkitab itu terbit.
Adapun kamus Purwodarminta Tahun 1980-2000 masih menyebut Pantekosta bukan Pentakosta.
Oleh karena Gereja-gereja Karismatik di Indonesia berdiri setelah Alkitab Bode dan Terjemahan Baru diterbitkan maka gereja gereja itu dan jemaatnya menggunakan kata “Pentakosta.”

Jadi, soal nama Pantekosta atau Pentakosta itu bukan masalah n tak pantas untuk dipertentangkan. Sama halnya dengan nama Musa atau Moses, Harun atau Aaron, Daud atau David, Paulus atau Saulus, Filipus atau Pilipus, Haleluyah atau Haleluya dan Amen atau Amin dan Yesus atau Jesus.

Kiranya menjadi maklum.
Tuhan memberkati.
By. FrankyLinda Rewah New

 

Screenshot_374

Jadi kita sekarang di masa kini menjadi tahu mengapa di GPdI, dipakai kata “Pantekosta” dan bukan “Pentakosta”. Terjemahan Clinckert 1863 masih dapat ditelusuri oleh karena diabadikan secara digital oleh website SABDA, www.sabda.org.

Screenshot_375

 

2,233 total views, 3 views today