Teks Bacaan: Keluaran 2:23-25

LATAR BELAKANG DAN PEMBAHASAN TEKS

Kitab suci memberi kesaksian bahwa pada awalnya relasi antara Israel-Mesir merupakan relasi yang baik. Bermula dari bencana kelaparan hebat yang mengharuskan Yakub dan saudara-saudara Yusuf pindah dari Kanaan ke Mesir (Kej. 47:4). Sesampainya di Mesir, -melalui Yusuf, Firaun menerima dengan baik kedatangan Yakub dan saudara-saudara Yusuf dengan menyatakan bahwa Tanah Mesir terbuka bagi mereka dan mereka diperbolehkan untuk tinggal. Bahkan Firaun sendiri memerintahkan mereka untuk tinggal di wilayah terbaik negeri Mesir yaitu tanah Gosyen (Kej. 47:6). Sebagai balasan atas kebaikan Firaun itu, Yakub memohonkan berkat bagi Firaun (Kej. 47:7,10). Kemudian matilah Yusuf serta semua saudaranya, namun keturunan-keturunan mereka semakin banyak dan negeri Mesir dipenuhi oleh mereka (Kel. 1:6-7).

Relasi baik antara Israel-Mesir berubah menjadi perseteruan karena bangkitnya seorang raja baru yang tidak mengenal Yusuf (Kel. 1:8). Raja baru itu merasa tidak nyaman dengan semakin banyaknya orang Israel di Mesir, hingga ia membuat sebuah program pembatasan jumlah penduduk Israel di Mesir yang dilakukan dengan dua cara: [1] kerja paksa (Kel. 1:11-14); dan [2] pembunuhan bayi Ibrani (Kel. 1:15-22).

Kesaksian kitab suci hanya sebatas itu, dan ketika membacanya, akan muncul kesan pertama bahwa orang Israel adalah sebagai pihak korban. Tidak ada informasi lebih lanjut yang menyebutkan perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan oleh orang-orang Israel hingga membuat Raja baru Mesir melakukan pembatasan jumlah penduduk Israel dengan dua cara ekstrem seperti itu, mengingat sebelumnya relasi yang terjadi adalah relasi yang baik. Jikapun pada saat itu Mesir melakukan perlawanan kepada orang-orang Israel dalam rangka merebut kembali kedaulatan dan juga tanah-tanah yang telah diduduki oleh orang-orang Israel, itu merupakan hal yang wajar yang harus dipahami sebagai upaya mereka dalam melakukan bela negara atau nasionalisme. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, apakah Mesir harus melakukannya dengan cara yang ekstrem itu. Masalah yang terjadi tentunya masalah sosial-politik yang berkaitan dengan kependudukan. Singkatnya, ini sebuah permasalahan tentang bangsa asing yang berkembang dan berhasil di negeri orang, sehingga membuat kecemburuan penduduk asli.

Kita juga tidak memiliki informasi tentang ada atau tidaknya upaya-upaya awal yang dilakukan oleh pihak Mesir dalam rangka menghadapi realitas semakin besarnya jumlah orang Israel, sebelum Mesir mengeluarkan dua langkah ekstremnya itu.

Bagaimanapun juga, orang-orang Israel juga menjadi tidak tahan menghadapi perlakukan kerja-paksa dan pembunuhan bayi-bayi Ibrani. Ini merupakan tindakan pelucutan harkat-martabat manusia (dehumanization) serta penghapusan eksistensi manusia (annihilaton). Pada keadaan inilah mereka berdoa, berteriak kepada Tuhan untuk minta pertolongan-Nya. Kemudian Tuhan mendengarkan dan memperhatikan teriakan mereka itu, yaitu dengan dihadirkannya Musa sebagai pemimpin yang membebaskan, membawa mereka keluar dari tanah perbudakan Mesir.

Bagian teks yang kita baca ini (Kel. 2:23-25) merupakan bagian terpenting dari kitab Keluaran karena merupakan jembatan yang menghubungkan antara realita perbudakan yang sedang dihadapi dengan pertolongan Tuhan yang diharapkan. Kata kerja זעק za῾aq, yang berarti bergumul, mengadu dalam rangka mencari dan mendapat keselamatan, menjadi kata kunci. Di tengah realitas perbudakan yang dialami, orang-orang Israel bergumul dan mengadu kepada Tuhan. Kepada Tuhan mereka memohon keselamatan dengan tak henti-henti.

Ada satu kata Ibrani lain yang bentuk maupun artinya mirip dengan זעק za’aq. Kata tersebut adalah צעק tsa῾aq, yang artinya adalah bergumul, mengadu dalam rangka mencari dan mendapat pertolongan atau bantuan. Dua kata ini dapat dilihat perbedaan artinya pada Mzm. 107:6,13,19,28.

Screenshot_583

BEBERAPA KISAH TENTANG TINDAKAN MENGADU (זעק MAUPUN צעק) DALAM KITAB SUCI

Pada zaman hakim-hakim, akibat melupakan Tuhan dan beribadah kepada para Baal dan Asyera, bangkitlah murka Tuhan atas orang-orang Israel, sehingga sebagai hukuman atas perbuatan mereka itu, Tuhan menjual mereka kepada Kusyan-Risyataim, raja Aram-Mesopotamia. Mereka menjadi takluk kepadanya delapan tahun lamanya. Lalu mengadulah (זעק, memohon keselamatan) orang Israel kepada TUHAN, maka TUHAN membangkitkan seorang penyelamat bagi orang Israel, yakni Otniel, anak Kenas adik Kaleb, lalu amanlah negeri itu empat puluh tahun lamanya. (Hak. 3:1-11)

Musa mengadu (צעק, memohon pertolongan) kepada Tuhan menghadapi ancaman bangsa Israel yang akan melemparinya dengan batu oleh karena mereka haus dan tidak menemukan air ketika berada di padang gurun di Rafidim. Tuhan merespon dan menolong Musa atas keadaan itu. Tuhan memberi perintah kepada Musa untuk memukul gunung batu dengan tongkatnya agar dari dalam gunung batu itu keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum. (Kel. 17:1-6)

Pemazmur, pada Mzm. 107 sebanyak 4 (empat) kali ia mengulang pernyataan senada tentang mengadu, yaitu pada ayat 6,13,19,28, yang berbunyi “Maka mengadulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka.” Kata צעק digunakan pada Mzm. 107:6 dan 28, sedangkan kata זעק digunakan pada Mzm. 107:13 dan 19.

Hal mengadu, juga pernah diajarkan oleh Yesus melalui sebuah perumpamaan. Ada seorang janda yang datang terus-menerus kepada seorang hakim yang tidak takut Tuhan, meminta hakim itu untuk membela perkaranya. Hakim itu selalu menolak, namun janda itu tetap selalu datang kepadanya dengan permintaan yang sama. Kedatangan terus-menerus janda itu membuat hakim merasa terganggu (susah), hingga pada akhirnya si hakim mengubah keputusannya, ia membela perkara janda itu. Hakim yang tidak takut Tuhan saja seperti itu apalagi Tuhan yang Maha Baik. Baca kembali Perumpamaan hakim yang tak benar, Luk. 8:1-8.

UNTUK KITA RENUNGKAN

  1. Tuhan selalu membuka diri-Nya, memberi kesempatan kepada manusia untuk datang kepada-Nya, mengadu, mencari pertolongan bahkan mendapat keselamatan dari-Nya.
  2. Manusia tidak pernah lepas dari keadaan buruk, baik yang disebabkan oleh karena pelanggaran yang dilakukan oleh diri sendiri maupun oleh orang lain. Yang harus dilakukan adalah tidak berhenti pada keadaan buruk itu, melainkan datang kepada-Nya untuk mengadu, memohon pertolongan dan keselamatan dari-Nya sehingga dapat keluar dari keadaan buruk itu.
  3. Kitab suci memberi kesaksian bahwa setiap orang yang datang dan mengadu kepada-Nya dengan harapan mendapat pertolongan dan keselematan dari-Nya, maka orang tersebut mendapatkannya oleh karena Tuhan mendengar dan memperhatikan. Biarlah kesaksian iman ini menjadi pengalaman iman bagi kita semua.

Disampaikan pada Persekutuan Doa Paramount, Jumat, 26 Juli 2019, ARA Center lt.6 Gading Serpong.

119 total views, 1 views today