tnk

PENDAHULUAN

Umat dan kitab adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Ketika sebuah umat telah mencapai pada sebuah sistem kepercayaan yang masif, yang disebut “agama,” -maka pada tahap selanjutnya umat memerlukan kitab suci dan membuatnya. Oleh sebab itu kitab suci adalah produk umat. Umat ada terlebih dahulu baru kemudian lahirlah kitab suci. Umatlah yang melahirkan atau menciptakan kitab suci bagi mereka sendiri dan untuk kepentingan mereka sendiri, yakni sebagai kesaksian dan juga sebagai wujud pengakuan iman secara komunal. Proses melahirkan atau menciptakan kitab suci pun terjadi secara bertahap atau berangsur, dari satu generasi ke generasi selanjutnya, -tidak langsung sekali jadi, berproses sedemikian rupa sampai pada bentuk akhirnya yaitu pada saat kanonisasi.

Kitab Perjanjian Lama yang sekarang ini dimiliki oleh umat Kristen sebenarnya adalah kitab suci umat Yahudi. Agama Yahudi muncul terlebih dahulu dan kekristenan muncul setelahnya. Kitab Perjanjian Lama sebenarnya adalah kitab suci umat Yahudi. Ketika kekristenan muncul dan belum menjadi sistem kepercayaan masif, umat Kristen juga menggunakannya sebagai kitab suci. Kemudian setelah kekristenan menjadi sebuah sistem kepercayaan yang telah masif maka kekristenan pun juga melahirkan kitab sucinya sendiri dengan cara menjadikan tulisan-tulisan injil dan surat-surat Paulus (dan beberapa yang lain) untuk dijadikan sebagai “kitab suci”. Dengan demikian umat Kristen mempunyai dua jilid kitab, yaitu [1] Perjanjian Lama sebagai pengadopsian dari kitab suci umat Yahudi, yang berpusat pada keyakinan dan kesaksian bahwa Allah memilih Israel sebagai umat pilihan-Nya sebagai lokus pertama dalam menyatakan karya sejarah keselamatan-Nya (heilsgeschichte); [2] Perjanjian Baru sebagai kitab yang diproduksi oleh umat Kristen sendiri yang berpusat pada keyakinan dan kesaksian bahwa Yesus adalah pemenuhan janji Allah pada Perjanjian Lama. Makalah ini secara khusus membahas Kitab Perjanjian Lama sebagai kitab suci umat Yahudi, yakni sebagai kesaksian iman umat Yahudi.

 

TANAK: STRUKTUR DAN SUSUNANNYA

Apa yang saat ini kita sebut Perjanjian Lama adalah kitab suci umat Yahudi. Mereka menyebutnya  sebagai ת״נך TaNaK.  T,N dan K, merupakan huruf-huruf pertama dari 3 (tiga) nama kelompok kitab yang membetuk kitab suci umat Yahudi yaitu: [1] Torah תּוֹרָה, kitab-kitab hukum, yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan; [2] Nebiim נְבִיאִים, kitab-kitab tentang nabi-nabi mulai dari Yosua hingga Maleakhi [3] Ketubim כְּתוּבִים, kitab-kitab yang digolongkan sebagai tulisan-tulisan suci dan juga puisi-puisi seperti kitab Mazmur, Ratapan, Kidung Agung, Amsal dan beberapa yang lain.

Umat Kristen mewarisi pengelompokan kitab dari tradisi Septuaginta (Perjanjian Lama versi Bahasa Yunani) sehingga mengikuti 4 (empat) kelompok kitab yakni, [1] Torah atau Pentateukh, [2] Kitab-kitab Sejarah, [3] Kitab Nabi-Nabi; dan [4] Kitab-kitab Puisi. Di bawah ini adalah dua macam pengelompokan kitab-kitab PL, Kanon Yahudi yaitu yang diwarisi oleh umat Yahudi hingga sekarang, yang juga disebut Tanak, dan yang satu lagi Kanon Yunani atau yang disebut juga versi Septuaginta yang selanjutnya diwarisi oleh umat Kristen hingga sekarang:

tanakh

 

TANAK: PESAN UTAMA YANG DISAMPAIKAN: KETERPILIHAN – KETERBUANGAN – PERTOBATAN – HARAPAN

Jika kita memakai urutan Perjanjian Lama versi Tanak/ Kanon Yahudi, kita akan melihat dengan jelas adanya alur utama yang hendak disampaikan oleh pembentuk Tanak itu, kira-kira seperti ini:

1. KEJADIAN – RAJA-RAJA; Dari Kitab Kejadian sampai dengan Raja-raja, 9 (sembilan) kitab pertama, disebut juga enneateukh, topik utamanya adalah tentang keterpilihan (heilsgeschichte) dan juga sekaligus keterbuangan (unheilsgeschichte) bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah. Alur cerita enneateukh memperlihatkan dengan jelas agar pembaca mengikuti alur ini: penciptaan alam semesta → penciptaan manusia → kejatuhan manusia dalam dosa → air bah → Abraham (keterpilihan) → Ishak → Yakub → 12 anak Yakub → 12 suku Israel → bangsa Israel (Kerajaan Israel Raya) → penyembahan berhala → pecah menjadi 2 kerajaan: [1] Israel Utara, 10 suku, disebut Israel; dan [2] Israel Selatan, 2 suku, disebut Yehuda → baik Kerajaan Israel Utara maupun Selatan menjalankan roda pemerintahannya masing-masing, namun sama-sama melakukan apa yang jahat di mata Tuhan (khususnya Israel Utara, semua rajanya jahat), yaitu tidak setia pada janji dan hukum Tuhan yang mereka wujudkan dengan penyembahan berhala dan akhirnya harus mengalami pembuangan (keterbuangan) → Israel Utara mengalami pembuangan ke Asyur dan Israel Selatan mengalami pembuangan ke Babilonia.

2. YESAYA – MALEAKHI; Dari Kitab Yesaya sampai dengan Maleakhi topik utamanya adalah para nabi yang bekerja dalam tugas kenabiannya, menyuarakan pertobatan, yaitu seruan untuk kembali mematuhi hukum dan perjanjian dengan Allah, terutama berbalik dari persepakatan politik dengan bangsa-bangsa lain yang sangat berpotensi menimbulkan sinkretisme.

Hal tentang nabi harus dikaitkan dengan raja dan imam. Pemahaman kita di masa kini tentang raja, imam dan nabi harus sesuai dengan konteks pada zaman dahulu, zaman Israel kuno dan bukan dalam perspektif kenabian seperti yang ada dalam konteks kekristenan kharismatik masa kini.

Pada konteks Israel Kuno, raja, imam dan nabi adalah sebagai pejabat kerajaan (sekarang: pegawai negeri). Raja sebagai eksekutif, pelaksana; imam sebagai legislatif, pemformulasi atau pembuat hukum (sekarang: pembuat undang-undang), dan nabi sebagai yudikatif, pengawas, mengawasi raja dalam menjalankan hukum, maupun mengawasi imam dalam membuat/ memformulasi hukum. Dalam kitab-kitab para nabi, nuansa nabi sebagai tokoh yang memiliki tugas yang sangat berat terlihat sekali, yani dalam berhadapan dengan raja dan imam. Sebagai contoh coba selidiki permasalahan yang terjadi di antara nabi Amos ketika berhadapan dengan imam Amazia tentang raja Yerobeam (Amos 7:10-17 “Amos Diusir”). Keberadaan kitab-kitab para nabi di antara enneateukh dan kitab-kitab tulisan suci menunjukkan seruan pertobatan yang tak lain adalah sebagai corpus propheticum, pokok pemberitaan para nabi.

3. MAZMUR – TAWARIKH; Sebagai kitab-kitab yang digolongkan sebagai tulisan-tulisan suci, ketubim merupakan kitab-kitab doa, ajaran, nasihat yang semuanya bertumpu pada pengharapan. Pengharapan untuk apa? Pengharapan untuk Allah berkenan kepada umat yang telah berdosa kepada-Nya. Ketubim juga merupakan kitab-kitab yang berisi nasehat yang membimbing perjalanan hidup seseorang untuk tetap pada hukum dan perjanjian dengan Allah, yang mana semuanya itu tetap dalam rangka mendapat perkenanan Allah.

PENUTUP: PERJANJIAN LAMA SEBAGAI KESAKSIAN IMAN, REFLEKSI DAN PENGHARAPAN UMAT YAHUDI

Membaca Perjanjian Lama dengan bingkai Tanak akan membantu kita dalam menemukan alur atau topik utama yang disampaikan oleh pembentuknya. Sebagai kesimpulannya kita akan menemukan bahwa Perjanjian Lama merupakan kesaksian iman, refleksi dan juga pengharapan umat Yahudi untuk mereka dapat mengalami dan menjadi kembali umat pilihan Allah seperti di masa lalu.

 

1,036 total views, 1 views today